INFIS is home to activists who have a passion for documentary films and has concerned to develop and bring the Indonesian richness of nature and culture to the public.

Sudut Inspirasi

Liputan

Newsletter

Follow Us

King of Krakatoa Memikat Antusiasme Pemuda pada Dunia Penelitian Alam

Home / News & Update  / King of Krakatoa Memikat Antusiasme Pemuda pada Dunia Penelitian Alam

“Prof. Tukirn bisa meyakinkan saya bahwa belajar langsung di alam bisa menghasilkan jauh lebih banyak”

Ungkap Faisal selaku tim dokumenter INFIS pada acara peluncuran film dokumenter King of Krakatoa yang berlangsung di Galeri Salihara, Pasar Minggu, Jakarta 4 September 2016 lalu. “Meskipun saya memiliki latar belakang pendidikan Biologi tapi ketika berada di Krakatau langsung bersama Prof. Tukirin, banyak pengetahuan baru yang saya dapatkan dari beliau. Inilah yang coba kita rekam dan visualisasikan dalam bentuk film,” Faisal menambahkan.

Film King of Krakatoa bercerita mengenai Prof. Dr. Tukirin Partomihardjo, peneliti LIPI yang menghabiskan lebih dari separuh hidupnya melakukan penelitian tentang perkembangan vegetasi atau yang dikenal dengan sebutan suksesi di Krakatau sejak tahun 1981. Beliau telah mencatat lebih dari 600 spesies tumbuhan yang tumbuh dan hidup setelah Gunung Krakatau meletus hingga membentuk sebuah ekosistem vegetasi lengkap yang unik di pulau kecil tersebut. Namun ironisnya Krakatau sebagai laboratorium hidup kini harus menghadapi tantangan keseimbangan ekosistem ditengah banyaknya jumlah kunjungan wisata yang kadang tidak diikuti dengan perilaku bertanggung jawab.

Latar belakang ini yang memotivasi INFIS dan Mongabay Indonesia untuk membuat sebuah film dokumenter yang dapat memotivasi generasi muda Indonesia untuk kembali mencintai alam melalui pendekatan penelitian. Film berdurasi 24 menit yang disutradari oleh Een Irawan Putra dan diproduksi bersama Mongabay Indonesia ini berhasil memikat antusiasme lebih dari 150 pengunjung dari berbagai latar belakang yang hadir pada hari itu.

“Penelitian sering dilihat seperti menara gading, karena hanya bisa dinikmati oleh kalangan peneliti saja, sulit menjangkau kelompok muda yang tidak menjangkau publikasi ilmiah. Tayangan film seperti ini bisa membangkitkan generasi muda untuk menjadi pecinta alam, lingkungan dan penelitian. Saya percaya melalui dasar penelitian yang benar, maka seluruh kebijakan yang dibuat pemerintah akan baik,” ungkap Prof. tukirin yang turut hadir untuk berdiskusi dengan pengunjung. Selain Prof. Tukirin, turut hadir dalam diskusi tersebut Prof. Eny Sudarmonowati selaku Deputi Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI, dan Dr. Maman Turjaman sebagai Kepala Laboratorium Mikrobiologi, Pusat Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Badan Litbang Kehutanan.

Tahun depan Prof. Tukirin akan segera memasuki masa pensiun di usianya yang ke 65 tahun, beliau sangat berharap ada peneliti Indonesia yang meneruskan perjuangannya mempelajari Krakatau. “Masih banyak misteri dan ilmu pengetahuan yang bisa digali di Krakatau.

Selain diputar secara perdana di Galeri Salihara, film ini juga diputar di Museum Nasional Sejarah Alam Indonesia di Bogor pada acara Night at the Museum tanggal 24 September, dilanjutkan dengan LIPI Youth Science Fair 2016 di gedung LIPI Gatot Subroto Jakarta, tanggal 26 September dan Universitas Pakuan Bogor pada 1 Oktober 2016.

No Comments
Post a Comment