INFIS is home to activists who have a passion for documentary films and has concerned to develop and bring the Indonesian richness of nature and culture to the public.

Sudut Inspirasi

Liputan

Newsletter

Follow Us

#SaveSeko Bagian Kedua: Keindahan Yang Disembunyikan

Home / News & Update  / #SaveSeko Bagian Kedua: Keindahan Yang Disembunyikan

Oleh: Een Irawan Putra

Mengapa kampung yang indah ini disembunyikan? Mungkin itulah pertanyaan yang akan muncul ketika kita melakukan perjalanan ke Seko. Perjalanan dari Masamba akan diawali dengan menyusuri sungai besar yaitu sungai Rongkong yang airnya masih sangat jernih yang membelah perbukitan. Selain sungai Rongkong, kita juga melihat aliran sungai Salulengko dan sungai Kakea’. Menikmati dari atas bukit keberadaan kampung-kampung di sebuah lembah yang dikelilingi hamparan sawah yang menguning. Juga melihat bentangan hutan-hutan tropis dataran tinggi yang masih kokoh berdiri. Apalagi jika sudah memasuki wilayah adat Seko. Bentangan padang savana yang hijau dan sangat luas akan membuat kita takjub dan tidak percaya pemandangan yang ada di depan mata kita ini nyata. Bukan sebuah mimpi, inilah Seko. Sebuah daratan yang berada di ketinggian diatas 1200 meter dari permukaan laut yang memiliki kekayaan dan keindahan alam yang luar biasa.  

Seko tidak hanya kaya akan keindahan lanskap. Berbagai tipe vegetasi tanaman dan topografi yang curam, serta menjadi hulu dari berbagai sungai yang airnya mengalir ke Sulawasi Barat, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah menjadikan Seko sebagai daratan penting bagi sebuah ekosistem Daerah Alisan Sungai (DAS). Suburnya tanaman padi, cokelat dan kopi membuktikan bahwa dataran tinggi Seko memiliki keunikan tersendiri. Bahkan pohon kelapa pun bisa tumbuh subur dan berbuah lebat. Pohon-pohon kelapa banyak ditemui di dataran tinggi ini.  

Hanya saja, hingga saat ini perjalanan menuju Seko dari Masamba tidaklah mudah. Jalanan penuh lumpur, curam dan berkelok-kelok menyusuri bukit. Kondisi jalan ini tidak berubah sejak 11 tahun lalu ketika pertama kali saya mengunjungi Seko. Bahkan sejak Kabupaten Luwu Utara dibentuk tahun 1999 tidak ada pembangunan jalan sama sekali untuk menuju Seko.

Kondisi jalan yang rusak inilah yang menyebabkan mesin motor Hairudin acap kali rusak. Bukan hanya Hairudin, ada ribuan warga Seko yang harus bernasib sama. Jarak Masamba-Seko yang hanya sekitar 126 km harus ditempuh selama 1-2 hari. Jika kondisi jalan sangat rusak disaat musim hujan, mereka bisa menginap sampai dua malam di jalan. Sekitar 14 ribu jiwa dari berbagai kampung yang tinggal di Pegunungan Seko. Secara turun-temurun Seko terdiri atas 9 wilayah adat, yaitu (1), Hono’ (2) Lodang, (3) Turong, (4) Singkalong, (5) Ambalong, (6) Hoyane, (7) Pohoneang, (8) Kariango dan (9) Beroppa’. Seko sendiri terbagi dalam tiga budaya dan adat istiadat; yaitu Seko Lemo, Seko Tengah dan Seko Padang.

Sepanjang perjalanan menuju Seko, kami berjumpa dengan beberapa masyarakat Seko yang membawa hasil-hasil pertaniannya ke Masamba. Ada kopi, cokelat, dan beras. Karung-karung besar yang sudah terisi penuh mereka ikat dengat kuat menggunakan karet hitam bekas ban dalam di depan dan belakang motornya. Bahkan ada karung yang diikat di atas roda depan. Satu motornya membawa beban sekitar 250-300 Kg. Mereka tidak bisa sendirian ke Masamba. Harus bertiga atau berempat. Jika motornya terjatuh, mereka tidak akan sanggup mendirikan motornya seorang diri. Harus dibantu oleh orang lain. Begitu pula disaat motornya terjebak di dalam lumpur, perlu bantuan orang lain untuk mendorongnya. Perjalanan motor mereka tidak bisa cepat. Selain jalanan yang rusak dan berlumpur, mereka harus ekstra hati-hati karena di sepanjang jalan jurang yang curam di satu sisi dan banyak titik-titik yang rawan longsor di satu sisinya lagi. Sangat menguras energi dan waktu untuk bisa menjual hasil pertanian mereka. Belum lagi selisih harga di kampung Seko dan di Masamba yang mencapai Rp 5.000 per kilogram semakin membuat perih dan menyayat rasa keadilan.

“Silahkan kumpulkan uang-uang raskin yang diberikan pemerintah kepada kami orang Seko. Kumpulkan saja uang pemerintah untuk membeli raskin untuk beberapa tahun, lalu gunakan untuk membangun jalan ke kampung kami. Walaupun itu hanya cukup beberapa kilometer saja. Kami tidak butuh raskin karena beras kami banyak. Bahkan beras kami bisa digunakan untuk membantu yang membutuhkan beras” ungkap Tobara Ambalong R. Kondo Lada’. Tobara adalah ketua adat atau pimpinan tertinggi untuk Komunitas Masyarakat Adat Ambalong. Tobara adalah jabatan yang diberikan secara turun temurun berdasarkan silsilah keluarga. R. Kondo Lada’ adalah keturunan dari generasi ke tujuh yang hingga saat ini masih tetap setia menemani masyarakatnya bercocok tanam padi, cokelat, dan kopi.

Muhyuddin Ta’deka mengatakan bahwa awalnya jalan ini tanggung jawab kabupaten. Tapi sekarang sudah menjadi tanggung jawab Provinsi Sulawesi Selatan karena dari Masamba bisa tembus ke Mamuju, Sulawesi Barat. Tapi sayangnya pemerintah tidak mau melihat penderitaan orang Seko.

“Dugaan saya, ada unsur politik dan kepentingan dalam menentukan pembangunan Seko. Mereka (Pemerintah Daerah) sengaja tidak mau membangun jalan, agar nanti jika perusahaan-perusahaan masuk Seko, penyampaian mereka kepada masyarakat adalah akan dibangun jalan jika perusahaan masuk. Perusahaan datang dan berinvestasi akan membantu masyarakat. Oleh karena itu perusahaan atau investasi yang datang ke Seko harus diterima” ungkapnya dengan nada kesal setelah seharian kami harus menelusuri jalanan yang penuh lumpur dan derasnya hujan. Apalagi ada informasi bahwa sudah ada puluhan perusahaan tambang yang ingin mengeruk kandungan mineral yang ada di perut bumi Seko. Berbagai survey geologi menunjukkan bahwa di dalam tanah Seko terdapat banyak kandungan emas, bijih besi dan uranium.

Seko, saat ini seperti gadis cantik yang dikurung di dalam rumah oleh orang tuanya menunggu dipinang oleh seorang laki-laki kaya.

No Comments
Post a Comment