INFIS is home to activists who have a passion for documentary films and has concerned to develop and bring the Indonesian richness of nature and culture to the public.

Sudut Inspirasi

Liputan

Newsletter

Follow Us

6 Film Dokumenter Diputar Di Kota Musik

Home / News & Update  / 6 Film Dokumenter Diputar Di Kota Musik

Tahun ini, Siapa Lagi Kalau Bukan Kita kembali mengadakan pemutaran beberapa film dokumenter dan sesi diskusi. Penjaga Pulau Jagaria, Patani, Pulau Yang Terbebas Dari Kelapa Sawit, Semunying, Dari Para Leluhur, dan O’Hangana Manyawa adalah rangkaian film yang diputar pada Jumat (5/5). Bertempat di Aula Fakultas Hukum Universitas Pattimura, Ambon, acara dimulai sekitar pukul 11.00 WIT.

Diskusi yang dimoderatori oleh Sam Difinubun dari Perkumpulan Kaoem Telapak juga dihadiri oleh Jacky Manuputty, salah satu tokoh di film dokumenter “Penjaga Pulau Jagaria”. Salah satu inisiator koalisi #SaveAru, yang sekaligus menjadi narasumber ini menekankan di awal diskusi bahwa kesadaran masyarakat muncul saat mereka merasa terancam. “Di dalam hutan ada keharmonisan, di hutan ada keseimbangan. Jika hutan hancur, keseimbangan akan terganggu” ujarnya. Dengan tegas ia juga menyampaikan bahwa #SaveAru hanya test case bagaimana menggalang solidaritas dan advokasi.

Jacky juga menuturkan bahwa konsep dibalik gerakan #SaveAru adalah membangun solidaritas sosial masyarakat konflik dengan mengelola dan menghadapi tantangan yang sangat serius dengan bersama-sama. Meski demikian, lintas etnis dan lintas agama serta berbagai komunitas lintas ilmu maupun disipliner turut bergerak bersama. “Orang tidak boleh dikalahkan sejak dalam pikiran. Oleh karena itu penyadaran pengelolaan oleh masyarakat harus kita lakukan” katanya.

Menambahkan pernyataan yang disampaikan Jacky, antropolog sekaligus dosen IAIN Ambon Dr. A. Manaf Tubaka menyampaikan pandangannya bahwa yang kita sebenarnya adalah wali masyarakat. “Persoalannya, kita mengalami national corporation. Kita saat ini hanya menikmati kesenangan sendiri. Jangan sampai kita tidak punya paru-paru kehidupan” tegasnya.

Penulis buku sekaligus jurnalis pemerhati Masyarakat Adat M. Aziz Tunny mengungkapkan kekhawatirannya bahwa Indonesia sebagai negara tropis yang memiliki fungsi sebagai penyerap karbon. Namun, anomali cuaca karena pemanasan global berasal dari penebangan yang luar biasa dan banyak wilayah sudah di konsesi.

Kemudian menanggapi 6 film dokumenter yang diputar hari itu, tokoh pemuda Maluku sekaligus koordinator Pena Marjinal Hanfry Matruty melihat #SaveAru sebagai gerakan sosial yang sempurna dan lahir dari pendampingan dan penyadaran yang tidak dilakukan dalam waktu singkat. “Banyak diantara kita yang tahu, paham dan sadar tapi tidak mengambil aksi. Tidak perlu memaki tapi dengan kontribusi” ujar Hanfry yang menutup sesi diskusi pada hari itu.

No Comments
Post a Comment