INFIS is home to activists who have a passion for documentary films and has concerned to develop and bring the Indonesian richness of nature and culture to the public.

Sudut Inspirasi

Liputan

Newsletter

Follow Us

Save Seko Tag

Home / Posts tagged "Save Seko"

Selain di Universitas Gajah Mada (UGM), Indonesia Nature Film Society (INFIS), ‘Siapa Lagi Kalau Bukan Kita’, Mongabay Indonesia dan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) juga mengadakan roadshow pemutaran film dokumenter & diskusi. Sallombengan Seko, O’Hangana Manyana, Penjaga Hutan Bumi Jargaria dan Dari Para Leluhur merupakan 4 dari 16 rangkaian film dokumenter yang diputar pada 6-9 September 2017 di Uwong Coffee, Yogyakarta. Film dokumenter yang menceritakan tentang Masyarakat Adat yang tidak diakui keberadaannya dan terus berjuang dalam mempertahankan wilayah adatnya. Cerita film-film...

Oleh : Een Irawan Putra Walaupun kondisi jalan dari Kampung Hoyane ke Kampung Pokapaang penuh lumpur dan licin karena memasuki musim hujan, beberapa bulan lalu kaum perempuan dari Hoyane tidak surut semangatnya untuk bergabung dengan kaum perempuan dari Pohoneang, Malino, Harana’, Pasangkalua’ dan Pokapaang. Dengan membawa serta anak-anaknya dan berbagai peralatan masak dan peralatan menginap mereka menerobos jalanan yang berlumpur. Butuh waktu sekitar  dua jam berjalan kaki untuk tiba di Pokapaang. Lebih dari 400 perempuan menduduki Puriliang, salah satu titik survey geologi...

Ditulis oleh: Een Irawan Putra Sambil duduk di pondoknya dan memandang aktivitas masyarakat Ambalong yang sedang panen padi, R. Kondo Lada’ menyampaikan bahwa inilah lumbung pangan seluruh Masyarakat Adat Ambalong. Puluhan tahun yang lalu, sebelum kawasan Sae dibuka untuk persawahan, masyarakat Ambalong harus membeli beras ataupun meminta beras kepada keluarga mereka di Seko Padang. “Saat itu ladang kami belum mencukupi untuk memenuhi kebutuhan beras kami. Setelah kami buka kembali tanah di Sae dan sekitarnya yang merupakan warisan orang tua kami, kami...

Oleh : Een Irawan Putra Pada masa pemberontakan DI/TII persawahan di Sae di Wilayah Adat Ambalong ini ditinggalkan seiring dengan mengungsinya masyarakat Ambalong akibat adanya perang antara pasukan Kahar Muzakar dengan pasukan TNI. Mereka kembali ke kampung setelah perang selesai dan DI/TII dibubarkan. Mereka kembali membuka sawah di Sae sekitar akhir tahun 90-an karena masyarakat adat Ambalong kekurangan beras. Sebelumnya mereka terpaksa membeli beras di Seko Padang untuk memenuhi kebutuhan berasnya. "Saya pernah ikut mobilnya Ginanjar Manager PT Seko Power Prima menyusuri...