INFIS is home to activists who have a passion for documentary films and has concerned to develop and bring the Indonesian richness of nature and culture to the public.

Sudut Inspirasi

Liputan

Newsletter

Follow Us

Revolusi Transportasi di Jakarta

Home / News & Update  / Revolusi Transportasi di Jakarta

Penduduk Ibu Kota Jakarta boleh jadi sedang berharap-harap cemas menantikan revolusi transportasi yang akan mengakhiri kemacetan akut di Jakarta. Kemacetan di Ibu Kota sebenarnya telah menjadi penyakit kronis sejak awal tahun 1990-an dengan kecenderungan yang semakin mengkhawatirkan. Berdasarkan informasi yang dikutip dari Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Republik Indonesia, peningkatan laju pertambahan jalan yang hanya sebesar 1% tidak sebanding dengan laju pertambahan volume kendaraan sebesar 11% per tahun menjadi inti permasalahan kemacetan di Jakarta.

Pemerintah tentunya telah melakukan berbagai upaya untuk “meredakan” masalah ini. Transportasi Busway yang digadang-gadang menjadi solusi kemacetan ternyata hanya mampu meminimalisir simpul-simpul kemacetan secara parsial dan belum menyentuh akar permasalahannya. Busway sebagai angkutan andalan Jakarta hanya mampu mengangkut sekitar 250.000 orang perhari dari total penduduk yang lalu lalang di Jakarta, belum lagi sebanyak 3 juta penduduk Jabodetabek yang masuk dengan kendaraan pribadi memperburuk situasi.

Akhirnya, dengan berbagai pertimbangan yang dibarengi dengan tekad kuat Pemerintah pun menjalankan Proyek Mass Rapid Transit (MRT). Proyek ini bukanlah suatu hal yang baru sebab, jauh kebelakang pada tahun 1985 telah menjadi perbincangan meskipun tidak dapat diwujudkan saat itu. Masyarakat pun turut berbangga dan berbahagia. Seperti yang disampaikan oleh Danil (41) seorang pekerja kontraktor yang ditemui di lokasi pengeboran stasiun MRT Setia Budi. “Pemerintah memang harus berani, kalau janjinya A ya harus diwujudkan. Jangan sampai pemerintah bilangnya A realisasinya B,  ya dilecehkan warga nanti” ungkap Danil.

Untuk mewujudkan harapan semua masyarakat sekaligus mendukung realisasi Proyek MRT, Pemerintah Daerah Provinsi Jakarta beserta PD Pasar Jaya telah bekerja sama dengan beberapa kementerian, diantaranya Kementeerian Bappenas, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Perhubungan dan Kementerian Keuangan.

Pembangunan MRT dilakukan dalam dua tahap. Tahap satu ditargetkan selesai pada tahun 2018. Tahap kedua ditargetkan beroperasi pada tahun 2020. Pembangunan tahap dua akan menghubungkan Lebak Bulus dan  Bundaran HI yang terdiri dari 7 stasiun layang dan 6 stasiun bawah tanah. Sementara, tahap kedua  akan menghubungkan Bundaran HI ke Stasiun Kota yang ditargetkan akan rampung pada tahun 2020. Hingga 31 Januari 2017 progres pekerjaan konstruksi MRT Jakarta tahap satu koridor Selatan-Utara telah mencapai 64,71%, untuk jalur layang mencapai 48,06% dan pekerjaan kontruksi bawah tanah kini telah merampungkan 81,52% pekerjannya

Tim Indonesia Nature Film Society (INFIS) sebagai salah satu rumah produksi turut berbangga, karena dapat  mendokumentasikan proses revolusi transportasi Jakarta  sejak proyek ini dimulai yaitu pertengahan 2015. Proses pendokumentasian Proyek MRT sampai saat ini masih terus berlanjut. Melalui film dokumenter yang telah dihasilkan dan dipublikasikan, masyarakat  dapat menyaksikan peradaban baru transportasi umum di Indonesia.

No Comments
Post a Comment