INFIS is home to activists who have a passion for documentary films and has concerned to develop and bring the Indonesian richness of nature and culture to the public.

Sudut Inspirasi

Liputan

Newsletter

Follow Us

Komunitas Film Palangkaraya Berkarya Mengenai Masyarakat dan Gambut

Home / News & Update  / Komunitas Film Palangkaraya Berkarya Mengenai Masyarakat dan Gambut

Palangkaraya, September 2016 – Kesadaran untuk menyelamatkan lahan gambut di Kalimantan Tengah perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak. Inisiatif ini menggerakan beberapa komunitas film di Palangkaraya untuk menghasilkan karya dokumenter mengenai hutan rawa gambut dan sosial ekonomi masyarakat di Kalimantan Tengah. INFIS bersama USAID Lestari Lanskap Katingan Kahayan dan Mongabay Indonesia mendukung kegiatan tersebut dengan memberikan workshop mengenai video dokumenter yang diadakan pada tanggal 8 dan 9 September 2016 di Golden Christian School, Palangkaraya.

Beberapa perwakilan komunitas dan lembaga seperti Save Our Borneo, Ranu Welum Media, Golden Christian School, MAN Model Palangkaraya, Rumah Baca Hijau, Kaliwood, White House, 536 TV, Street Activity dan My First Movie ikut serta dalam kegiatan workshop tersebut. “Workshop ini penting untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang kebakaran hutan, gambut, dan kabut asap, karena sejauh ini pemahaman masyarakat Kalimantan Tengah masih kurang terkait isu-isu tersebut, padahal masalah-masalah itu paling dekat dengan mereka. Mereka masih menganggap kabut asap yang mereka rasakan adalah fenomena tahunan rutin yang tidak perlu diberi tindakan,” ungkap Roro salah satu peserta workshop yang mewakili komunitas Ranu Welum.

Kegiatan workshop diawali dengan mengulas kembali pengertian dan tahapan pembuatan video dokumenter sambil mendiskusikan hasil video yang sudah pernah dibuat baik oleh INFIS maupun komunitas, lalu dilanjutkan dengan eksplorasi ide, membangun cerita dan membuat perencanaan film di hari kedua. Een Irawan Putra dari INFIS selaku pengisi materi workshop berharap melalui kegiatan ini, teman-teman komunitas film Palangkaraya bisa lebih produktif untuk menghasilkan karya dokumenter bertemakan lingkungan, hutan, dan lahan gambut dari sudut pandang sosial budaya ekonomi masyarakat lokal Kalimantan Tengah, khususnya masyarakat yang berada di Lanskap Katingan Kahayan, “Komunitas film lokal perlu lebih diberdayakan agar dapat ikut berpartisipasi dan membantu menyampaikan berbagai informasi tentang pengelolaan sumber daya alam Kalimantan Tengah beserta upaya-upaya penyelamatannya. Sebagai generasi muda yang kritis, mereka harus bisa diajak untuk ikut serta berpartisipasi dalam usaha untuk mengurangi dampak kebakaran hutan.” Een juga menjelaskan bahwa, “Komunitas yang terlibat akan mendapatkan dukungan dana untuk memproduksi film yang sudah mereka rencanakan selama satu bulan, mulai dari proses pengambilan gambar hingga pasca produksi. Karya dokumenter ini kemudian akan diikutsertakan dalam kompetisi menulis dan film dokumenter yang akan diselenggarakan di Palangakaraya, pada pertengahan Oktober 2016 ini.”

Karya dokumenter berjudul Gambutku Sayang, Gambutku Hilang dipilih sebagai judul karya dokumenter yang akan diproduksi kelompok komunitas Rumah Baca Hijau, 536 TV dan My First Movie Palangkaraya. Proses produksi dilakukan sejak 24 September 2016, dimulai dengan pengambilan gambar kanal gambut yang dibangun oleh Presiden Joko Widodo pada tahun 2015 di Desa Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau dan dilanjutkan dengan wawancara dengan pakar gambut di Palangkaraya. Roro berharap melalui kegiatan workshop dan kompetisi dokumenter ini akan lebih banyak informasi tentang lahan gambut, kebakaran hutan, dan kabut asap bisa dikemas dalam bentuk film yang mudah disampaikan ke masyarakat Kalimantan Tengah. “Dengan film kami ingin mengubah paradigma masyarakat Kalimantan Tengah agar mau saling bahu-membahu dalam mengambil tindakan untuk mengurangi terjadinya kebakaran hutan dan kabut asap serta menjaga kelestarian hutan gambut,” ujar Roro menambahkan.

No Comments
Post a Comment